Dua Dosen Fakultas Tarbiyah & Tadris IAIN Bengkulu jadi Pembicara di Markaz Knowledge City, India

Menutup akhir tahun 2017, dua dosen Fakultas Tarbiyah & Tadris IAIN Bengkulu : Yenni Patriani, MA dan Intan, Permata Sari, MA membuat prestasi yang mengagumkan dengan menjadi pemateri pada acara “First International Academic Conference On Islam and Muslim World (IACIM-17) on: ISLAM AND OPEN CIVILIZATION; ART, SCIENCE, AND LITERATURE IN CONTEMPORARY MUSLIM WORLD”. Yenni Patriani, MA mempresentasikan papernya yg berjudul: أوجه الشبه والاختلاف بين العربية والإندونيسية في ظاهرة الترادف – وكيفية التعامل مع هذه الظاهرة عند تدريس العربية للإندونيين dan Intan Permata Sari mempresentasikan papernya dg judul:  THE TRANSFORMATION OF ISLAMIC VALUE IN INDONESIA: The Awakening of The Muslims Through Online Media

Konferensi tersebut dihadiri oleh para delegasi yang terdiri dari presenter dan participat dari beberapa negara yaitu; India, Indonesia, Malaysia, Turki, Pakistan dan Italia. Kegiatan yang dilaksanakan di Markaz Knowledge City, Malaibar Institute For Advanced Studies (MIAS) Kozhikode, India pada tanggal 30-31 Desember 2017 ini terselenggara atas kerjasama antara Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Tawassul Centre For Research and Dialogue, Italia.

WhatsApp Image 2017-12-30 at 22.27.25WhatsApp Image 2017-12-31 at 15.13.30

Saat memberi keterangan langsung dari India dengan menggunakan aplikasi online, Yenni Patriani, M.A menyampaikan bahwa kegiatan seperti sudah seharusnya menjadi kebutuhan seorang akademisi, terutama dosen. Yenni yang merupakan alumni S1 dari prodi Tadris Bahasa Arab IAIN Bengkulu dan S2 beasiswa Kerajaan Brunnei Darussalam (Mofat) di Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Brunei Darussalam ini menambahkan bahwa mengikuti kegiatan konferensi baik itu sebagai presenter maupupun participant akan sangat bermanfaat, selain dapat mengupgrade wawasan dan membahas isu- isu terkini terkait bidang masing- masing, sehingga akan sangat mempengaruhi bagi seorang dosen ketika melaksanakan proses belajar mengajar dikelas, sehingga sudah selayaknya konferensi internasional merupakan “pikniknya akademisi”, maka dari itu ia mengajak agar para rekan- rekan akademisi untuk “tidak kurang piknik”.  Sebagai tambahan Yenni juga berpendapat bahwa berpartisipasi pada sebuah konferensi internasional sebagai presenter juga akan berdampak pada perluasan perkenalan IAIN Bengkulu di tingkat internasional dan dapat menaikkan reputasi lembaga dibidang riset, karena selain disampaikan secara oral presentation, hasil dari kegiatan seperti ini akan diterbitkan secara proceeding maupun jurnal cetak dan online. Maka dari itu Yenni menyarankan kedepannya para akademisi di Indonesia, khususnya IAIN Bengkulu untuk lebih aktif pada kegiatan- kegiatan ilmiah serupa.

Humas.