IAIN Bengkulu – Jakarta – Di hari ke-3 penyelenggaraan Annual International Conference Islamic Studies ( AICIS ) ke-19 di Hotel Mercure Batavia Jakarta diisi dengan Panel Sesion membahas Masa depan Islam di Era Sosial media, Kamis (3/9). Pemateri dalam session ini diantaranya Martin Slama dari University of Vienna, Eva Fahrunnisa dari University of Wellington, Mahmoed Salthout dari University of Indonesia, dan Kamaludeen M. Nasir dari NTU, Singapore.

Session Panel 3 diikuti oleh Dosen – dosen peneliti para akademisi dari berbagai negara, materi pembahasan mengangkat bagaimana Islam menghadapi Era perkembangan Media sosial atau di Era DIgitalisasi. Disampaikan Prof. Rohimin, Direktur Pasca Sarjana IAIN Bengkulu yang juga sebagai peserta dalam session panel ini, bahwa didalam tranformasi keilmuan khususnya keilmuan Islam saat ini ada beberapa hal dalam tradisi islam itu sudah tergerus atau diabaikan sehingga dalam pembelajaran agama islam saat ini, sudah tidak lagi berbasis “Sanad” mata rantai keilmuan (Isnad atau sanad adalah silsilah nama-nama perawi (pewarta) yang membawakan suatu berita tentang hadits Nabi  atau kejadian-kejadian sejarah. Dinamakan sanad, karena para penghafal menjadikannya acuan dalam menilai kualitas suatu berita atau ucapan. Apakah ucapan tersebut shahih (valid) atau dha’if (tidak valid)), Red. sehingga tradisi sanad yang pernah berkembang dalam tradisi ilmu hadist yang mata rantainya itu bisa dipertanggung jawabkan, maka di era digital ini sudah terabaikan, bahkan sebuah kebenaran pun sudah tidak lagi menjadi prioritas utama diakibatkan masukanya era “Post-Truth”.

Post-truth dapat didefinisikan sebagai kata sifat yang berkaitan dengan kondisi atau situasi dimana pengaruh ketertarikan emosional dan kepercayaan pribadi lebih tinggi dibandingkan fakta dan data yang objektif dalam membentuk opini public.

Lanjut Prof. Rohimin menegaskan, dalam pembelajaran keilmuan islam harus kembali kepada kelimuan islam yang sebenarnya yaitu sebuah tradisi ilmiah yang hanya dimiliki oleh umat islam yaitu Isnad atau Sanad karena ahli hadist menyusun rumusan keilmuan ini dengan kaidah-kaidah detil yang mengagumkan. Sehingga umat islam dapat menangkal dampak buruk dari perkembangan Era Digital khususnya perkembangan Sosial media saat ini.(iw/hms)