Menu Close

Mahasiswa Penerima Beasiswa Baznas Gelar Diskusi Bersama Penggerak Perempuan Bengkulu

IAIN BENGKULU — Peserta Beasiswa Cendekia BAZNAS IAIN Bangkulu menggelar diskusi dengan organisasi penggerak perempuan, Komisi Pemberdayaan Perempuan Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (PPRK MUI) Provinsi Bengkulu yang diwakili oleh Nurlaili, M.Pd. Diskusi berlangsung di ruang rapat Fakultas Tarbiyah dan Tadris IAIN Bengkulu,pada Jum’at (13/11/2020).

Diskusi ini dalam rangka memberikan penguatan pengetahuan peserta Beasiswa Cendekia BAZNAS tentang organisasi atau aktivis perempuan.

Mengawali materinya, Nurlaili menjelaskan sekilas tentang PPRK. Ia menegaskan bahwa PPRK merupakan salah satu komisi dalam keorganisasian MUI, dimana pengurus dan anggotanya merupakan gabungan dari organiasi perempuan Islam dan perorangan. Diantaranya adalah Aisiyah Muhammadiyah, Wanita Islam, Fatayat NU dan Muslimat NU serta organisasi lainnya.

“Organisasi ini menjalankan fungsi pemberdayaan, pembinaan dan pendidikan bagi perempuan, remaja dan keluarga, mencakup berbagai bidang, mulai dari sosial, agama, budaya, kesehatan, pendidikan hingga politik,” jelasnya.

Nurlaili menambahkan sebagai aktivis, sejatinya tidak ada cluster perempuan atau laki-laki. Namun demikian, pilihan menjadi aktivis yang peduli terhadap perempuan itu penting. Tidak hanya bagi perempuan itu sendiri namun juga bagi laki-laki. Artinya laki-laki tidak tabu untuk terlibat dalam organisasi perempuan.

Nurlali menilai sebagai aktivis muda ada beberapa prinsip yang perlu perhatian sebagai modal dasar yakni pertama peningkatan kompetensi. Menurut Nurlaili bidang yang ditekuni sejatinya harus menunjukkan bahwa kita memiliki nilai lebih dibandingkan dengan yang lain.

“Baik dari aspek akademik maupun non akademik,misalnya sebagai hafiz atau kemampuan bahasa asing. Kemudian jadilah pemenang dalam setiap kesempatan, menjadi pemenang berarti menjadi yang terbaik. Untuk mencapai ini harus terus belajar, meningkatkan kompentensi dalam segala bidang. Artinya jangan cepat puas dengan apa yang diperoleh saat ini,” ujarnya.

Kedua, memiliki pandangan jauh kedepan. Sebagai mahasiswa perlu refleksi terus menerus, apa tujuan yang ingin dicapai. Tujuan akhir sesungguhnya tidak hanya pada lulus kuliah tepat waktu dengan nilai terbaik. Melainkan menjadikan diri punya nilai jual atau nilai guna di tengah-tengah masyarakat.

” Ketiga kemandirian. Innal fata man yaquulu haa ana dza, laisa fata man yaquulu kaana abi, (sesungguhnya pemuda sejati adalah yang berani mengatakan inilah saya, bukanlah pemuda sejati yang mengatakan dia bapakku. Dalam konteks ini menjadi pemuda, mahasiswa atau aktivis harus siap untuk mandiri, berdiri di atas kaki sendiri. Tidak di bawah bayang-bayang pihak lain, termasuk orang tua sekalipun. Mandiri berarti memiliki kemampuan seta bertangungjawab terhadap kemampuan tersebut,” katanya. 

terakhir lanjur Nurlaili, tanamkan sifat suka menolong. Menurutnya salah satu prinsip penting sebagai aktivis adalah kepedulian, karakter ini perlu dalam rangka mengembangkan kepekaan terhadap lingkungan. Menolong tidak selalu identik dengan ekonomi, namun juga hal lain seperti pekerjaan, atau memberikan solusi berupa pendapat atas masalah yang dihadapi orang lain.

Dalam penutup diskusinya Nurlaili menyampaikan bahwa tidak ada kerugian menjadi aktivis. Organisasi merupakan wadah lain selain pendidikan formal. Dengan berorganisasi kita dapat menempah kemampuan, memperkaya informasi dan memperluas network. Organisasi juga sebagai wadah mendewasakan diri, melatih berfikir dan bersikap hingga mengambil keputusan.

“Terkhusus untuk perempuan, bahwa perempuan sangat dibutuhkan tidak hanya menghadapi persoalan domistik, melainkan persoalan formal, dan sesungguhnya yang mengerti persoalan perempuan adalah perempuan itu sendiri,” tutupnya.

Leave a Reply