Menu Close

MAHASISWA BCB IAIN BENGKULU “KREATIFITAS TANPA BATAS BERSAMA KOMUNITAS GEN-INKLUSI BENGKULU”

IAIN Bengkulu — Mentorship peserta BCB yang kedua Bulan Januari ini dilaksanakan tanggal 31 Januari 2021. Pada kegiatan ini menghadirkan Pemuda Inspiratif Bengkulu tahun 2019 Juwita Febrianti, salah satu pemuda inspiratif dari kelompok difabel.  Kegiatan yang dilakukan di Rumah Singgah al Almaun ini dimulai jam jam 14.00-16.30WIB. Kegiatan ini diikuti seluruh peserta BCB sebanyak 6 orang serta teman-teman istimewa dari komunitas Gen-inklusi Bengkulu sebanyak 14 orang. Materi yang disampaikan dalam temu Pemuda Inspiratif ini adalah motivasi pengembangan diri dalam keterbatasan. Kegiatan ini seyogyanya akan dilaksanakan pada bulan Februari, namun karena menyesuaikan dengan jadwal komunitas maka kegiatan ini dilaksanakan lebih awal.

Mengawali kegiatan, wakil ketua Gen-Inklusi yang biasa di panggil Ari menjelaskan tentang Gen-inklusi. Gen-inklusi merupakan wadah bagi teman-teman istimewa dari kelompok difabel. Terbentuk sejak tahun 2018 bertepatan dengan hari disabilitas. Anggotanya merupakan orang-orang yang mengalami keterbatasan, baik fisik, indera maupun intelektual dari berbagai daerah di Provinsi Bengkulu. organisasi ini dibina oleh   kementerian sosial Kota Bengkulu. Pada tahun 2019 salah satu anggota gen-inklusi Juwita Febrianti terpilih sebagai pemuda inspiratif Bengkulu kategori penulis dari kelompok difabel.

 Juwita Febrianti merupakan pemuda inspiratif, penulis puisi dan berprestasi tingkat nasional. Menurutnya motivasi terbesar dalam menulis puisi adalah untuk mengekpresikan diri. Baginya puisi mewakili rasa, keinginan dan harapan. Bahkan ia sudah mulai menulis puisi sejak kelas 2 SDLB, hingga saat ini. Semangat dalam mengekpresikan diri baginya ketika orang-orang senang membaca dan mendengar puisi yang ia buat. Juwita menegaskan bahwa  panjang pendeknya sebuah puisi bukan persoalan, namun yang terpenting adalah puisi tersebut mampu menyentuh pembacanya. Perempuan yang memiliki keterbatasan fisik dan bicara ini berharap puisinya dapat menginspirasi banyak orang.

Hadir juga dalam kegiatan ini Gustia Ramanda sebagai pendamping komunitas Gen-inklusi. Perempuan berusia 28 tahun ini memiliki keterbatasan fisik/berjalan. Ia menjelaskan bahwa gen inklusi memiliki program-program terkait dengan pengembangan diri komunitas, mulai dari pendidikan, ekonomi serta keterampilan. Perempuan yang pandai stand up komedi ini menjelaskan bahwa lingkungan, khususnya Bengkulu belum ramah difabel. Sarana layanan publik, seperti rumah sakit, bank, kantor pemerintah belum menyediakan sarana khusus bagi difabel. Hal ini sangat menghambat aktifitas komunitas Gen-Inklusi dalam beraktifitas.

    Dari diskusi yang dilakukan Peserta BCB dan komunitas sepakat untuk membuat program sebagai tindak lanjut. Program tersebut berupa pendampingan keterampilan dan pendidikan. Peserta BCB akan bergabung dengan Gen-inklusi sebagai relawan dari kelompok non difabel. (rls/Humas IAIN Bengkulu)

Leave a Reply