Menu Close

Wakil Rektor III Beri Motivasi Pada Mahasiswa BCB

IAIN BENGKULU — Menjadi aktivis atau aktif berorganisasi bukan tujuan, melainkan jalan untuk mencapai tujuan. Organisasi merupakan wadah menempa potensi diri yang menjadi penunjang kesuksesan di masa depan. Untuk itu perlu memilih organisasi yang tepat dan memberikan kebutuhan untuk menempa diri. Demikian kata pembuka yang disampaikan oleh Bapak Dr. KH. Zulkarnain Dali, M.Pd, Wakil Rektor III IAIN Bengkulu/UIN FS Bengkulu dalam acara Menthorsip Mahasiswa penerima BCB.

Acara yang bertajuk Refleksi Indeks Capaian Beasiswa Mahasiswa penerima BCB IAIN Bengkulu ini dilaksanakan di ruang kerja Wakil Rektor III. Dalam hal ini dihadiri oleh seluruh penerima BCB sebanyak 6 orang, berlangsung jam 09.00-10.00 WIB. Beliau memberikan apresiasi atas capaian akademik mahasiswa BCB yang menggembirakan. Namun dari aspek capaian sebagai aktivis muda perlu mendapat perhatian serius dan peningkatan. Lebih lanjut dalam materinya beliau menyampaikan bahwa, salah satu persoalan di Indonesia khususnya di Bengkulu adalah masalah Sumber Daya Manusia.  Persoalan ini tidak hanya menyangkut skill atau keterampilan, melainkan juga persoalan kemampuan manajemen, leadership, human relation. Tiga kemampuan ini terkait dengan proses dalam organisasi, dengan demikian berorganisasi tidak menjadi pilihan melainkan kebutuhan. Artinya ketika aktif berorganisasi maka potensi kepemimpinan semakin besar peluangnya untuk berkembang.

Dalam kesempatan menthorsip ini beliau menyampaikan, sebagai penerima manfaat Baznas ada tanggung jawab akademik yang harus diperhatikan. Tidak hanya persoalan capaian indeks prestasi, namun juga kapasitas pribadi selaku aktivis, misalnya keterlibatan sebagai pemimpin dalam komunitas. Di sisi lain sesuai dengan perkembangan zaman maka, seluruh aktifitas perlu di publikasi. Dengan demikian selaku aktivis muda dapat menginspirasi orang disekitar untuk aktif berorganisasi. Tegas Dr. KH. Zulkarnain Dali, M.Pd selaku Wakil Rektor III IAIN Bengkulu.

Menutup materinya beliau menyampaikan bahwa, kemiskinan bisa menjadi jalan kebodohan dan kekufuran. Karena itu perlu peningkatan potensi diri, menjadi pribadi yang cerdas, pribadi yang sehat dan kuat. Sehingga mampu menghindari dan memerangi kemiskinan. Puncaknya adalah zakat tidak hanya berhenti pada penerima, namun selanjutnya penerima manfaat bisa menjadi muzakki. 

(rls/Humas IAIN Bengkulu)

Leave a Reply