IAIN BENGKULUĀ  – IAIN Bengkulu menjalankan peran dan tugasnya sebagai lembaga perguruan tinggi atau sebagai akademisi dalam mengkaji suatu persoalan. Kali ini, IAIN Bengkulu menggelar seminar internasional mengangkat tema ‘ The Secret Of Tabut Sustainability’, berkaitan dengan Tabut, sesuatu tradisi dan budaya milik orang Bengkulu untuk mengenang wafatnya cucu Nabi Muahammad SAW yakni Imam Husein.

Tak tanggung-tanggung, untuk mengupas Rahasia Keberlangsungan Tabut Bengkulu, pada seminar kali ini IAIN Bengkulu mendatangkan duta besar Iran untuk Indonesia, kemudian menghadirkan Ayatullah Dr. Muhsin Qummi pembicara dari mamber Of The Assembly Expert Islamic Republik, kemudian lagi Dr Abdul Majid Hakimollahi sebagai Direktor OF ICC Jakarta.

Gubernur Bengkulu Dr. H. Rohidin Mersyah, MMA melalui Asisten III, H Gotri Suyanto mengatakan bahwa Pemerintah daerah Provinsi Bengkulu sangat membutuhkan sekali peran, pokok pikiran, analisa dari pihak akademisi. Buah pikiran hasil penelitian dan kajiannya sangat dibutuhkan, apalagi mengingat Tabut ini sangat potensial sekali untuk wonderful Bengkulu.

“Kami (Pemda,red) berterima kasih sekali kepada pihak IAIN Bengkulu yang telah menggelar seminar ini. Ini adalah bukti bahwa IAIN Bengkulu ikut kontribusi membangun daerah, ikut serta melestarikan dan menjaga tradisi budaya milik Bengkulu. Kami sangat bangga kepada IAIN Bengkulu ini. Bapak Gubernur pun selalu mendorong percepatan transformasi IAIN Bengkulu jadi UIN,” katanya.

Sementara itu, Dr. Abdul Majid Hakimollahi mengatakan ketertarikannya akan budaya dan tradisi Tabut di Bengkulu yang sudah ada sejak lama. Iapun melontarkan pertanyaan. Apa rahasianya Tabut di Bengkulu tetap berlangsung ? Ia pun mengatakan bahwa ada dua barometer yang dapat melestarikan Tabut dari dulu hingga sekarang. Pertama adalah peristiwa itu, kejadian sejarah itu berdasarkan fitrah manusia. Barometer kedua adalah mampu menjawab persoalan manusia.

“Didalam Tabut itu ada kesesuaian fitrah manusia dan hikmah kemanusiaan tang ditawarkan setiap zaman. Lalu Tabut ini menjawab kebutuhan manusia tentang bagaimana manusia itu berasal, terbebas dari penjajahan, hal semacam inilah yang membuat Tabut ini lestri,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua KKT (Kerukunan Keluarga Tabut) Bengkulu, Syafril, ST mengungkapkan bahwa Tabut adalah suatu cara untuk mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW yakni Imam Husein. Tabut ini bentuk kecintaan masyarakat Bengkulu terhadap Imam Husein.

“Seperti prosesi “ambik tanah’. Prosesi ini mengingatkan kita bahwa manusia berasal dari tanah. Kemudian tabuh Dhol, itu adalah genderang perang, yang sekarang jadi genderang kehormatan dll,” ujarnya.

Disisi lain, Rektor IAIN Bengkulu Prof. Dr. H Sirajuddin M, M.Ag, MH saat sambutan mengatakan bahwa Negara Iran ini terkenal dengan pemikirannya, pemikiran politik, sains dll. “Karena itu kita berharap pada kesempatan ini bisa mengambil moment untuk kerjasama lebih dalam lagi. Saya dan tim sudah berencana pada tahun depan untuk melakukan penelitian, kolaborasi penelitian antara Iran dan Indonesia yang diwakili oleh IAIN Bengkulu,” tutup Rektor. (rls)